• Sanggit dan Kinerjanya

    Sanggit sudah tidak asing lagi bagi telinga penggemar wayang, yang bisa diartikan sebagai ciri khas seorang dalang dalam membawakan cerita tertentu.

  • Sinden di Ambang Kehancuran

    Sinden bukanlah vokalis. Sinden sendiri berarti vokal tunggal yang (kebanyakan) dibawakan oleh wanita. Namun, agak berbeda pengertian sinden dengan vokalis dalam musik pada umumnya.

  • Tari Gandrung dan Identitas Daerah

    Gandrung sebagai kesenian masyarakat Using yang dianggap sebagai masyarakat asli Banyuwangi menjadi pilihan yang paling gampang dari pada kesenian-kesenian lainnya.

  • Jahe Jamu Kuat Pria

    Jahe bagi masyarakat dipercaya dapat mengatasi kondisi mulai dari mual, batuk, nyeri otot hingga kanker. Kemajuan ilmu medis juga telah meneliti tentang jahe ini.

  • Klambi Lurik Asli Jawa

    Pada mulanya, lurik dibuat dalam bentuk sehelai selendang yang berfungsi sebagai kemben (penutup dada bagi wanita).

Têmbang Macapat 5 (Méga Mênḍung)

MÉGA-MÊNḌUNG


Karanganipun: R. Ng. L. Tédjasusastra

Kaduk Rasa Kurang Pikir

Têmbang Macapat Mijil

(1)
Kucing gêring nak-énak kêkaring,
ngalémprak néng payon,
sajak ayêm têntrêm sawangané,
kambi ḍiḍis lawan andilati,
mrih wuluné klimis,
lêmês sarta alus.
Share:

Kabar dari Rembang (Sendhon Waton)



Menghadiri sebuah acara obrolan adalah kesukaan saya. Entah itu obrolan berkualitas, obrolan tak berkualitas, omong kodok, hingga omongan percil saya suka, asalkan ada waktu luang atau waktu mirunggan. Seperti kemarin tanggal 26 Maret 2017 saya datang ke sebuah acara obrolan yang diadakan oleh Sanggar Cakraningrat di Rembang. Sanggar ini diprakarsai oleh seorang dalang muda berbakat yang baru naik daun, yaitu Ki Sigid Ariyanto.
Share:

Têmbang Macapat 4 (Méga Mênḍung)

MÉGA-MÊNḌUNG

Karanganipun: R. Ng. L. Tédjasusastra

Ngêrti Kabêcikan

Têmbang Macapat Kinanthi

(1)
Duk ing uni ana ratu,
ingkang tansah anêtêpi,
mring kotamanirèng gêsang,
wêlas asih mring sêsami,
ambêg adil paramarta,
martotama anartani.
Share:

Asal-usul dan Golongan Tembang Jawa (Versi Mardawa Lagu)

Tembang di Jawa memang kurang populer di kalangan manusia modern sekarang ini. Mayoritas mereka hanya mengenal tembang macapat, padahal tembang macapat ini adalah tembang cilik. Adapun tembang-tembang lainnya yaitu, ada tembang Maca-sa Lagu, Maca-ro Lagu kemudian ada Maca-tri Lagu  dan yang terakhir adalah tembang Maca-pat Lagu.
Share:

Têmbang Macapat 3 (Méga Mênḍung)

MÉGA-MÊNḌUNG
Karanganipun: R. Ng. L. Tédjasusastra
Èlinga Marang Wong Tuwamu
Têmbang Macapat Ḍanḍanggula

(1)
Sumurupa anggèr duk ing nguni,
kalanira sira durung ana,
bapa biyungira kiyé,
kang ingajab ing kalbu,
Share:

Pencipta Nama Hari Jawa (Versi Wayang)



Setelah mengetahui asal-usul nama hari di Jawa (baca: Nama Hari di Jawa) yang ternyata adalah nama-nama Planet. Mari kita telusuri siapa pencetus nama-nama hari  tersebut. Tentu ada yang kasih nama kan, beberapa sumber yang Jagad Jawa baca, memang belum ada sejarah yang pasti, namun ada beberapa cerita gotek atau tradisi lesan yang berkembang dan diyakini hingga sekarang. Soal kebenaranya tentu masih dipertanyakan. Namun yang jelas jangan diperdebatkan panjang lebar ya, nanti kita lengah dan hanya udur saja ga bisa ngliwet, dan kendhilnya jadi nggoling.
Share:

Têmbang Macapat 2 (Méga Mênḍung)



MÉGA-MÊNḌUNG
Karanganipun: R. Ng. L. Tédjasusastra

 Sing Srêgêp
Têmbang Macapat Pucung

(1)
Timbang nganggur, gagasané dadi nglantur, 
angur nambut karya, 
apa-apa ditandangi, 
wit ngêrtia wong nganggur bantalé sétan.
Share:

Kabar Dari Kayen


JAGAD JAWA, Kabupaten Pati, memiliki sekitar 21 kecamatan, salah satunya adalah Kecamatan Kayen. Letak kecamatan ini adalah berjarak dari pusat kota Pati sekitar 17 Km. Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Sukolilo, sebelah utara ada kabupaten Kudus dan Kecamatan Gabus, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Kecamatan Tambakromo dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Grobogan (Purwodadi).
Share:

Têmbang Macapat 1 (Méga Mênḍung)


Sèri têmbang macapat mênika mligi ngêwrat karanganipun R. Ng. L. Tédjasusastra ingkang sampun kaimpun dados buku ingkang judulipun Méga Mênḍung.
Share:

Siklus Hari Orang Jawa Tidak Hanya Pasaran dan Padinan



Selain hari pasaran dan hari mingguan, orang jawa memiliki sistem berbeda lagi dalam menghitung hari. Hari Pasaran berjumlah 5 sudah tentu banyak orang jawa (bahkan non jawa) yang paham, yaitu legi, pahing, pon, wage dan kliwon.
Share:

Apa Itu Sesaji Bagi Orang Jawa

Sesaji berasal dari kata saji. Sajian, sesajian, maknanya sama  dengan hidangan. Menyajikan berarti menghidangkan. Sesaji kata benda bersifat tunggal, sedangkan sesajian bermakna jamak atau plural.  Sesaji yakni sesuatu yang dihidangkan. Secara umum sesaji dibuat sebagai wujud sedekah. Saya ulangi sekali lagi, sedekah. Sedekah yang dibagikan kepada orang lain. Sedekah dilakukan tidak  terbatas pada antar sesama manusia, melainkan bisa dilakukan  kepada bangsa tumbuhan, binatang, bahkan makhluk halus sekalipun. Nilai esensial dari sedekah itu sendiri yakni bentuk nyata kasih-sayang atau welas-asih antar sesama makhluk penghuni jagad raya ini. Pemahaman ini sangat penting digarisbawahi untuk membebaskan diri dari cengkeraman opini “sampah” yang telah mengotori otak dan hati kita. 

Secara garis besar terdapat tiga macam sesaji yang dibedakan menurut tujuan membuatnya. 

Bancakan  

Bancakan termasuk sesaji ditujukan untuk sedekah terutama kepada sesama manusia. Bancakan dibuat untuk dibagi-bagikan kemudian dimakan oleh orang.  Untuk itu bancakan biasanya dibuat dengan aneka rasa yang enak di lidah dan berupa hidangan khusus yang menimbulkan selera makan.  Untuk itu membuat bancakan tidak boleh sembarangan melainkan harus dibuat senikmat mungkin agar orang-orang yang kita sedekahi turut puas dan bahagia. Prinsipnya sederhana saja yakni, kalau mau memberikan sedekah, maka berikan sedekah yang sebaik-baiknya kepada orang lain. Jangan pernah berikan “sampah” pada orang lain, yakni apa yang kita sendiri sudah enggan memakannya.  

Bancakan dibuat oleh seseorang, kelompok, grup, atau bahkan institusi dengan berbagai tujuan misalnya dalam rangka ritual syukuran, ritual selamatan, atau ritual doa permohonan. Orang yang memahami kebijaksanaan hidup, saat mengekspresikan rasa sukur tidak akan cukup hanya dengan ucapan manis di mulut saja, tetapi mewujudkan rasa sukur itu dalam perbuatan nyata misalnya sedekah. Doa mohon keselamatan, doa permohonan untuk mewujudkan suatu tujuan baik, seyogyanya dibuka dengan sedekah. Karena sedekah merupakan cara terbaik untuk memantaskan diri kita menjadi orang yang layak menerima anugrah.  

Sajèn Bebono  

Sajen merupakan bahasa Jawa dari sesaji. Tetapi istilah sajen lebih familiar untuk menyebut sesaji yang bukan berupa bancakan. Bentuk sajen biasanya tidak selalu berupa  hidangan yang enak dimakan. Bahkan kadang berupa bahan-bahan yang tidak enak dan tidak mungkin untuk dikonsumsi oleh manusia. Misalnya minyak wangi, kemenyan, dupa, kunyit mentah, dlingo dan bengle dll.  Sajen dalam bahasa kraton lebih familiar disebut sebagai bebono atau pengorbanan atau kurban. Akan tetapi Anda jangan membayangkan “pengorbanan” atau “kurban” berupa tumbal setan yang menyeramkan. Anda jangan membiasakan diri mengikuti paham “sampah” yang sering ditebarkan melalui sinetron dan film-film murahan yang sering beredar di bioskop dan ditayangkan televisi.  Seringkali mereka membuat opini yang salah kaprah tapi tidak menyadari hal itu telah meracuni otak masyarakat Indonesia. Keadaan ini sungguh memprihatinkan sekali. 

Sama dengan bancakan, bebono juga merupakan sedekah. Tujuannya adalah untuk bersedekah kepada seluruh makhluk sesama penghuni planet bumi. Sebagai manusia yang arif dan bijaksana, manusia yang berkesadaran kosmologis, akan menyadari bahwa hidup di dunia ini selalu berdampingan dengan beragam makhluk hidup, yang kasat mata, maupun yang tidak kasat mata. Manusia juga hidup menumpang di antara benda-benda tidak hidup yang ada di planet bumi ini. Dalam filsafat hidup Jawa, berpijak dari fakta-fakta  itu menyadarkan kita bahwa salah satu tujuan utama manusia hidup di planet bumi adalah untuk saling menghormati, saling menghargai, dan saling menyayangi di antara makhluk hidup yang ada. Baik kepada antar sesama manusia maupun terhadap hewan, tumbuhan, dan makhluk halus. Dalam filsafat hidup Jawa, ditanamkan suatu kesadaran kosmologis di mana kita harus menghargai, menghormati, dan memanfaatkan seluruh benda hidup maupun benda-benda tidak hidup dengan cara adil, bijaksana serta penuh kasih sayang. Pada intinya apa maksud dan tujuan dari seseorang membuat sesaji bancakan, sajen atau  bebono, tidak lain untuk mewujudkan rasa menghormati, menghargai, rasa syukur dan sebagai expresi sikap welas asih secara nyata kepada seluruh makhluk penghuni planet bumi. Dapat dianalogikan, seperti apa yang dilakukan orang tua yang menyayangi anak-anak tentu mereka akan bersedia mengorbankan tenaga, pikiran, beaya dan waktu untuk membahagiakan anak-anak mereka. 

Orang tua telah memberikan bebono kepada anak-anaknya. Dalam konteks bebono, pengorbanan atau sedekah sebagai expresi kasih sayang itu lebih difokuskan kepada bangsa halus. Bangsa halus tidak boleh diperlakukan semena-mena. Mereka juga makhluk hidup yang diciptakan Tuhan, untuk mengisi jagad raya ini dalam fungsinya masing-masing sesuai hukum alam (kodrat) yang berlaku. Bangsa makhluk halus diciptakan bukan untuk dianiaya oleh bangsa manusia, melainkan untuk berperan serta dalam tata hukum keseimbangan alam. Sudah selayaknya bangsa manusia yang kata orang sebagai makhluk paling sempurna, maka sempurnakan pula perilaku yang adil dan bijaksana sebagai bagian dari bangsa makhluk hidup yang beradab dan santun kepada alam semesta dan seluruh penghuninya.  

Sajèn Pisungsung  

Pisungsung artinya persembahan. Dalam konteks ini pisungsung lebih difokuskan kepada eksistensi supernatural being, misalnya ancesters atau ancient spirit (leluhur) yakni orang-orang yang telah hidup di dimensi yang abadi. Dalam posting saya terdahulu seringkali saya sampaikan bahwa salah satu kunci sukses kehidupan kita adalah seberapa besar bakti kita kepada kedua orang tua, dan para leluhur kita, hingga leluhur perintis bangsa besar ini. Nah, pisungsung merupakan wujud ekspresi nyata bakti kita kepada para leluhur berupa suatu persembahan. Pisungsung tidak terbatas benda fisik. Bisa juga berupa persembahan melalui lisan misalnya doa, ucapan terimakasih, ucapan sembah pangabekti, hingga persembahan berupa tindakan nyata misalnya ziarah kubur, nyekar, ritual menghaturkan aneka ragam uborampe untuk pisungsung, membersihkan pusara dst. Kita perlu mengenang para leluhur, selain sebagai ekspresi rasa terimakasih dan hormat serta berusaha mengambil sisi positif kehidupan masa lampau orang-orang yang telah mendahului kita sebagai suri tauladan. Pisungsung lazimnya pula berupa minuman dan makanan, benda-benda seperti bunga, minyak wangi yang dulunya disukai oleh orang-orang yang mendahului kita. Atau sesuai tradisi yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian diharapkan dapat terhubung tali rasa sih-katresnan antara orang yang memberikan pisungsung dengan leluhur. 

Sampai di sini, mudah-mudahan para pembaca yang budiman dapat memahami dengan bijaksana. Dengan memahami nilai luhur filsafat dalam sesaji seperti uraian di atas, diharapkan bagi siapapun yang sedang membuat dan berbagi sesaji dapat menanamkan pola pikir (mind set) yang tepat pula. Sehingga sesaji menjadi lebih besar nilai filsafatnya, dan lebih efektif untuk menciptakan perubahan positif dalam kehidupan kita. Junk opinion telah merusak nilai luhur yang terkandung dalam ritual hatur sesaji. Bahkan membeloknya esensi tujuannya. Bahkan junk opinion telah merusak pola pikir serta mengotori kalbu pelakunya. Jika sudah rusak pola pikirnya, kemudian orang menjadikannya sebagai alasan untuk memojokkan dan menjelekkan tradisi hatur sesaji. Bahkan kemudian melarangnya dengan cara menakut-nakutinya sebagai tindakan berdosa. Entah hal ini akibat kebodohan masyarakat atau memang sebuah usaha sistematis melakukan cultural and ethnic cleansing.  

Opini Yang Dibelokkan  

Untuk membantu pemahaman, saya akan berikan beberapa contoh opini “sampah” mengenai sesaji. Yakni pandangan-pandangan, penilaian, perspektif yang salah kaprah menyoal sesaji.
  1. Sesaji dianggap sebagai bentuk “suap” atau cara untuk merayu mahluk halus, setan dsb agar bersedia membantu manusia. Ini pandangan salah yang paling popular.
  2. Pandangan salah berikutnya adalah, menganggap manusia yang membuat sesaji sebagai orang yang tunduk-patuh, takluk, bahkan menyembah makhluk halus. Pandangan ini lebih ngawur, makin menjauhkan dari nilai esensial yang sesungguhnya dari sesaji itu sendiri.
  3. Pandangan berikutnya lebih parah dan lebih ngawur. Yakni anggapan bahwa memberikan sajen akan membuat makhluk halus menjadi ketagihan dan akan menganggu jika orang tidak lagi memberikan sajen.
Baiklah para pembaca yang budiman. Saya tetap menghargai jika ada pembaca yang bersikukuh berpendapat seperti poin-poin di atas. Tidaklah heran jika fakta-fakta yang saya saksikan di atas juga dianggap sebagai opini “sampah”. Itu disebabkan karena sulitnya membuktikan fakta gaib dengan kesaksian mata kepala sendiri. Tetapi anda juga tidak layak untuk secara subyektif merasa bahwa opini anda paling benar dan factual. 

Bagi saya pribadi dan sejauh yang bisa saya saksikan sendiri, kenyataan di atas merupakan suatu fakta yang jelas dan apa adanya. Walau apa yang saya saksikan sulit untuk disaksikan pula oleh orang lain, tetapi setidaknya apa yang saya sampaikan dapat memenuhi kaidah logika atau penalaran yang sehat.  

Sesaji Sebagai Harmonisasi Dengan Alam  

Sub judul di atas merupakan falsafah Jawa tentang prinsip dasar yang melandasi tindakan seseorang untuk memberikan sesaji atau sedekah. Tetapi akibat kurangnya pemahaman tentang sesaji, hal itu menimbulkan stigma, yakni penilaian negative dan pemahaman yang melenceng jauh dari prinsip dasar, pengertian, maksud dan tujuan sesaji itu sendiri. Kadang muncul stigma sangat tendensius yang menghakimi tindakan memberikan sesaji. Padahal dalam upacara sesaji sesungguhnya memiliki nilai luhur kearifan local masyarakat Indonesia. Tindakan destruktif, brutal dan tidak bertanggungjawab kadang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan pembelaan Tuhan. Itu terjadi karena orang tidak tahu jika dirinya sedang tidak tahu, tidak sadar jika dirinya sedang terbenam dalam ketidaksadaran yang sangat membius. 

Seperti telah saya singgung di atas bahwa sesaji merupakan usaha untuk berharmoni dengan hukum alam. Penjelasan singkatnya begini, seseorang memberikan sedekah kepada beragam kehidupan yang ada di lingkungan sekitarnya. Sedekah ini merupakan artikulasi nyata dari kesadaran manusia untuk saling menjaga kelestarian alam, menjaga keharmonisan dan kelangsungan ekosistem dan lingkungan hidup. Rasa welas asih menjadi pondasi melakukan sedekah sesaji. Itu disebut pula urip (hidup) yang murup (menyala), atau hidupnya berguna untuk seluruh kehidupan di planet bumi. Jangankan menyakiti apalagi membunuh orang lain yang beda pendapat, mengumpat dan meledek pun tidak dilakukannya. Perbuatan demikian itu jelas merupakan tindakan melawan hukum alam. Cepat atau lambat pasti akan tergulung oleh mekanisme hukum  keadilan alam.  

Tingkatan Sesaji  

Sesaji atau sedekah jika mengacu pada kualitasnya, sifatnya bertingkat-tingkat. Dari sesaji yang levelnya paling sederhana (rendah) hingga paling lengkap (tinggi). Dengan demikian, sesaji bukanlah sesuatu yang memberatkan. Tetapi dapat disesuaikan menurut kemampuan masing-masing orang. Orang mau pilih yang sederhana dan ringan atau yang lengkap, yang penting setiap bersedekah atau bersesaji harus dilakukan dengan tulus ikhlas. Jika terpaksa jangan melakukannya. Efeknya pun berbeda tergantung seberapa tinggi kualitas sesaji atau sedekah yang diberikan. 

Sesaji sebagai bentuk kebaikan pasti menimbulkan efek getaran energy positif yang memancar ke segala penjuru. Besaran energy ini ditentukan seberapa besar kualitas sesaji yang diberikan. Energy positif akan beresonansi kemudian membangkitkan energy positif yang berlipat ganda, dan sebaliknya energy negative akan meresonansi kemudian menimbulkan energy negative yang berlipat ganda pula. Oleh sebab itu bagi siapapun yang akan memberikan sesaji hendaknya niat dan pikiran sudah disetel secara tepat semenjak proses membuat sesaji dimulai.  Di situlah saat paling menentukan apakah sesajinya akan menghasilkan respon positif atau malah sebaliknya. Kuncinya terletak pada pengorbanan, persembahan, dan ketulusan yang ditujukan kepada orang-orang, mahluk hidup dan lingkungan yang kita hormati dan sayangi. 

Demikian tadi uraian singkat mengenai sesaji. Semoga tulisan ini dapat membantu para pembaca yang budiman untuk memahami seluk-beluk sesaji secara proporsional dan bijaksana.  

Rahayu sagung titah dumadi

Artikel ini hanyalah hasil copas dari blog kawan, silahkan berkunjung ke tulisan aslinnya yang berjudul: Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajen)

Foto ilustrasi adalah koleksi pribadi dan sebagian di ambil dari google dengan kata kunci SESAJI JAWA.
Share:

Blangkon Identitas Kedaerahan


Blangkon, sebuah istilah yang khalayak kenal untuk menyebutkan sebuah penutup kepala. Tidak hanya pada tradisi Jawa Tengah saja, melainkan orang Bandung (Jawa barat), Orang Jawa Timur, dan bahkan orang Bali juga mengenakan blangkon tersebut.
Share:

Makna Kalimasada Hubunganya Dengan Pancasila (Mitologi Purwa Kawitan)



Banyak orang menterjemah dan mengartikan Kalimasada adalah kalimah sahadat, atau kalimat sahadat. Ini mungkin juga ada benarnya, alasanya yang membuat kalimasada adalah Sunan Kalijaga. Namun belum tentu itu informasi yang absolut dan sah, masih banyak hal-hal yang harus di bicarakan lagi, mengenai penggunaan kalimasada itu sendiri dan si pemiliknya, serta jangan lupa adalah tinjauan bahasa atau linguistik.
Share:

Syeh Siji Jenar Bapak Ilmu Hening Jawa

Bersamaan dengan berkembangnya masa, kemudian terjadi keelokan dari ilmu laku yang tidak disangka-sangka. Dikemudian hari pengetahuan pasamaden tadi muncul diterima oleh kalangan orang Islam, sebab yakin kalau pengetahuan pasamaden tersebut memang menjadi mustikanya keinginan dan cita-cita yang dapat mendatangkan keselamatan, kemuliaan, ketenteraman dan hal-hal semacamnya. Oleh karena itu pengetahuan tadi oleh orang-orang yang sudah mendapatkan pencerahan batin yaitu Syekh Siti Jenar, yang juga menjadi pembimbing agama Islam berpangkat wali, kemudian tercantum didalam karya seratnya, yang kemudian disebut dengan daim, yang berasal dari kata daiwan yang disebut diatas. Kemudian juga menjadi bagian dari sarana manembah (penyembahan), sambil diberi tambahan julukannya, kemudian muncul istilah shalat daim (shalat bahasa Arab, daim dari kata daiwan bahasa Sansekerta). Adapun kemudian ditambahi istilah Arab, hanya untuk perhatian untuk mengukuhkan keyakinan murid-muridnya yang sudah meresapi agama Islam. Juga perkataan shalat kemudian terpilah menjadi dua perkara. Pertama, shalat lima waktu, yang disebut shalat Syariat, maksudnya adalah panembah lahir. Kedua, shalat daim, itu adalah panembah batin, maksudnya adalah menekadkan (meng -I’tikadkan) manunggalnya pribadi, atau disebut pula loroning atunggal (dua yang menyatu [Kawula-Gusti, Ingsun-Gusti]).
 
Kitab karangan Syekh Siti Jenar tersebut kemudian digunakan sebagai pokok pengajaran. Kemudian setelah mendapatkan perhatian orang banyak, sholat lima waktu dan syara agama yang lain kemudian terpinggir, bahkan kemudian tidak terajarkan sama sekali. Yang menjadi perhatian hanya lelaku shalat daim saja. Maka orang jawa yang semula memeluk Islam, apalagi yang belum, hampir semuanya berguru kepada Syekh Siti Jenar, karena pengajarannya lebih mudah, jelas, dan nyata. 
 
Sesudah Syekh Siti Jenar mengajarkan pengetahuan pasamaden, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran adalah Ki Ageng Pengging, yang kemudian menjadi muridnya, dikarenakan Syekh Siti Jenar adalah mitra dalam kebaikan dari Ki Ageng Pengging, yang kemudian menjadi muridnya, dikarenakan Syekh Siti Jenar adalah mitra dalam kebaikan dari Ki Ageng Pengging. Pengetahuan pasamaden oleh Syekh Siti Jenar juga diajarkan kepada Raden Watiswara, atau Pangeran Panggung, yang juga berpangkat wali. Kemudian juga diajarkan kepada Sunan Geseng, atau Ki Cakrajaya, yang semula bekerja menderas kelapa, (menjadi murid Sunan Kalijaga, termasuk anggota walisanga yang ikut menyaksikan dihukum matinya Syekh Siti Jenar, lalu berguru kepada Sunan Panggung). Asalnya dari Pagelen (Purworejo). Kemudian ajaran tersebut menyebar diamalkan oleh orang banyak. Demikian juga sahabat-sahabat Syekh Siti Jenar yang sudah terbuka rasanya oleh Syekh Siti Jenar kemudian mendirikan perguruan-perguruan pengetahuan pasamaden. Semakin lama semakin berkembang pesat, sehingga menyuramkan pengaruh dan penguasaan agama para wali yang sedang giat-giatnya menyerbarkan Islam syara’. Seandainya gerakan itu dibiarkan oleh para wali, terdapat kekhawatiran masjid akan kosong. 
 
Pembantaian Terhadap Penganut Ajaran Syekh Siti Jenar 
 
Agar tidak terjadi hal yang demikian, maka Ki Ageng Pengging, Syekh Siti Jenar serta murid dan sahabatnya dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal lehernya, dengan perintah Sultan Demak. Demikian juga Pangeran Panggung tidak ketinggalan, dipidana dimasukan kedalam bara api hidup-hidup di alun-alun Demak, sebagai peringatan agar msyarakat merasa takut, dan kalau sudah takut mereka mau membuang ajaran Syekh Siti Jenar. Diceritakan Pangeran Panggung tidak mempan oleh amuk api, dan kemudian melompat keluar dari dalam api, meninggalkan Demak. Sultan Bintara dan segenap para wali terbengong-bengong dan terkagum-kagum serta terpengaruh kewibawaan serta kesaktian Sunan Panggung, hanya kamitenggengen ( terdiam) seperti tugu. Sesudah sementara waktu, Pangeran Panggung sudah jauh, Sultan dan para wali baru ingat jika Sunan Panggung sudah pergi dari tempat pidana, serta merasa kalah. Disertai dengan banyak prajurit Sunan Geseng atau Ki Cakrajaya pergi menyusul sunan Panggung. Sultan Demak tidak mampu menahan marah, dan melampiaskan kemarahannya, sahabat serta murid-murid Syekh Siti Jenar yang bisa ditangkap dibantai. Dilakukan pengejaran besar-besaran terhadap semua orang yang dicurigai pernah mengenyam ajaran Syekh Siti Jenar. Sebagian pengikut yang tidak tertangkap pergi meninggalkan Demak mencari selamat. 
 
Para sahabat dan murid yang masih hidup, masih tetap melestarikan ajaran dan eprguruan Syekh siti Jenar tentang pengetahuan pasamaden, tetapi kemudian dibalut dengan pengajaran syariat Islam, agar tidak diganggu gugat oleh para wali yang menjadi alat Negara. 
 
Ajaran Pasamaden (Olah Hening) 
 
Adapun sebagian ajarannya adalah sebagai berikut. Pengajaran pengetahuan pasamaden yang kemudian disebut shalat daim, dirangkapkan dengan pengajaran shalat lima waktu serta rukun-rukun Islam yang lain-lainnya. Pengajaran shalat daim itu disebagian kalangan disebut wiridan (tarekat) naksyabandiyah, sedangkan lelaku pengajarannya disebut tafakur. Sebagian ada yang dalam pengajarannya, sebelum murid menerima pengajaran shalat daim, terlebih dahulu dilatih dengan dzikir dan wirid membaca ayat-ayat suci. Oleh karena itu pengajaran pasamaden kemudian terbagi menjadi dua, yaitu :
 
  1. Pengajaran pasamaden atau wewiridan dari para sabahat Syekh Siti Jenar, yang disertai dengan pengajaran syara’ rukun agama Islam. Pengajaran tadi sampai sekarang ini sudah meleset dari ajaran pokok semula, karena itu para guru sekarang, yang mempraktikan pengetahuan pasamaden, yang diberi nama (tarekat) naksabandiyah atau Syatariyah mengira bahwa pengetahuan dan wewiridan tersebut berasal dari ulama di jabalkuber (Hijaz, Mekkah). Kemudian para Kiai dan Guru tadi melaksanakan pengetahuan pasamaden menurut ajaran Jawa yang berasal dari pengajaran Syekh Siti Jenar. Atau juga para guru dan kiai tadi senang memberikan sebutan Kiniyai, yang mengandung maksud, guru yang mengajarkan ilmu setan, Sedang nama Kiai, adalah guru yang mengajarkan ilmu para nabi.
  2. Pengajaran pasamaden menurut Jawa, buah dari Ki Ageng Pengging, yang tadinya dipancarkan dari pengetahuan Syekh Siti Jenar (yang kemudian diberikan peraban/sebutan klenik), yaitu yang semula menjadi pembuka pengajaran, terletak pada pengelolaan perwatakan lima hal, yaitu:
  • Setya Tuhu (kesetiaan dan ketaatan) atau temen (bersungguh-sungguh) dan jujur.Teguh-sentausa, adil dalam segala hal, bertanggung jawab dan tidak berkhianat.
  • Benar dalam segala perilaku dan perbuatan, sabar dan berbelas kasih kepada sesama, tidak menonjolkan atau membangga-banggakan diri, jauh dari watak aniaya.
  • Pandai dalam segala pengetahuan, lebih-lebih pandai dalam membuat enak perasaan sesama, ataupun juga pandai menahan dan mengendalikan rasa amarah dan jengkelnya perasaan pribadi, tidak memiliki prinsip melik nggendhong lali (kalau sudah punya dan sudah enak lupa akan asalnya), hanya karena pengaruh harta benda yang gemerlapan.
  • Susila anor-raga, selalu memelihara tata karma, mengendalikan akibat penglihatan (apa yang dilihat) dan pengaruh pendengaran (pa yang didengar) kepada pihak yang terkena.
Lelaku lima hal tadi harus dilaksanakan beserta iringan puja-brata dengan melaksanakan laku semedi, yaitu amesu cipta mengheningkan teropong penglihatan (mubasyirah). Oleh karena itu bagi pengamalan agama Jawa, bab mengenai pengetahuan pasamaden serta lelaku lima perkara diatas harus diajarkan kepada semua orang, tua muda tanpa memilih rendah tingginya derajat orang. Karena itu dengan sebab mustikanya pengetahuan atau luhur-luhurnya kemanusiaan, ini apalagi tetap semedi-nya, mampu menjalankan lima hal yang sudah disebutkan diatas. Oleh karena kita tinggal disuasana ketentraman, sedangkan keadaan tentram menyebabkan makmur-sejahtera dan kemerdekaan kita bersama. Kalau tidak demikian, sampai rusaknya dunia, kita akan tetap menanggung derita, papa dan terhina, tergilas oleh roda perputaran dunia, karena kesalahan dan terkhianati oleh perasaan kita pribadi. 
 
Praktik Ilmu Hening Cara Jawa dan Ilmu Kasunyatan 
 
Bab pengetahuan pasamaden yang kemudian disebut Naksyabandiyah dan Syatariyah, yang kemudian disebutkan sebagai wewiridan dari Syekh Siti Jenar, sudah dijelaskan diatas, hanya saja aplikasinya tidak dijelaskan secara rinci. Disini hanya akan menjelaskan lelaku aplikatif terhadap semedi secara Jawa, yang belum terpengaruh oleh agama apapun, yaitu seperti dibawah ini.
 
Para pembaca, agar jangan keliru atau salah terima, apabila ada anggapan bahwa semedi ini menghilangkan rahsanya hidup atau nyawa (hidupnya) keluar dari badan wadag. Penerimaan seperti itu, pada mulanya berasal dari cerita perjalanan Sri Kresna di Dwarawati, atau sang Arjuna ketika angraga-sukma. Agar diperhatikan, bahwa cerita seperti itu tetap hanya sebagai persemuan atau perlambang (symbol, bukan hal atau cerita yang sebenarnya). Adapun uraian mengenai lelaku semedi sebagai berikut. Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa-tunggal, maligini rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengelolaan atau pengajaran, ataupun pengalaman-pengalaman yang terterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan baik dan jelek, kemudian memunculkan tata-cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan /adat). Apapun anggapan baik-buruk, yang sudah menjadi tata cara disebabkan telah menjadi kebiasaan itu, kalau buruk, ya betul-betul buruk, dan kalau baik, ya memang baik sesungguhnya. Dan itu semua belum tentu, karena semua itu hanyalah kebiasaan anggapan. Adapun anggapan (penganggep), belum pasti, tetap hanya menempati kebiasaan tata cara (adat), jadi ya bukan kesejatian dan bukan kenyataan (real).
 
Apa yang dimaksudkan semedi disini, tidak ada lain kecuali hanya untuk mengetahui kesejatian dan kasunyatan. Adapun sarananya tidak ada lagi kecuali hanya mengetahui atau menyilahkan anggapan dari perilaku rasa, yang disebut hilang-musnahnya papan dan tulis. Ya disitu itu tempat beradanya rasa-jati yang nyata, yang pasti, yang melihat tanpa ditunjukan (weruh tanpa tuduh). Adapun terlaksananya harus mengendalikan segala sesuatunya (hawa nafsu dan amarah), disertai dengan membatasi dan mengendalikan perilaku (perbuatan anggota badan). Pengendalian anggota tadi, yang lebih tepat adalah dengan tidur terlentang, disertai dengan sidhakep (tangan dilipat didada seperti takbiratul ihram, atau seperti orang meninggal) atau tangan lurus kebawah, telapak tangan kiri kanan menempel pada paha kiri kanan, kaki lurus, telapak kaki yang kanan menumpang pada tapak kaki kiri. Maka hal itu kemduian disebut dengan sidhakep suku(saluku) tunggal. Ataupun juga dengan mengendalikan gerakan mata, yaitu yang disebut meleng. Lelaku seperti itu dilakukan bagi yang kuasa mengendalikan gerak-bisik cipta (gagasan, ide, olah pikir), serta mengikuti arus aliran rahsa, adapun pancer-nya (arah pusat) penglihatan diarahkan dengan memandang pucuk hidung, keluar dari antara kedua mata, yaitu di papasu, adapun penglihatannya dilakukan harus dengan memejamkan kedua mata.
 
Selanjutnya adalah menata keluar masuknya napas, seperti berikut, Napas ditarik dari arah pusar, digiring naik melebihi pucuk tenggorokan hingga sampai di suhunan (ubun-ubun), kemudian ditahan beberapa saat. Proses penggiringan atau pengaliran napas tapi ibarat memiliki rasa mengangkat apapun, adapun kesungguhannya seperti yang kita angkat, itu adalah mengalirnya rasa yang kita pepet dari penggiringan nafas tadi. Kalau sudah terasa berat penyanggaan (penahanan) napas, kemudian diturunkan secara pelan-pelan. Lelaku seperti itu yang disebut sastra-cetha. Maksudnya sastra adalah tajamnya pengetahuan, cetha adalah mantapnya suara dipita suara (cethak), yaitu cethak (diujung dalam dari lidah) mulut kita. Maka disebut demikian, ketika kita melaksanakan proses penggiringan napas melebihi dada kemudian naik lagi melebihi cethak hingga sampai ubun-ubun. Kalau napas kita tidak dikendalikan, jadi kalau hanya menurutkan jalannya napas sendiri, tentu tidak bisa sampai di ubun-ubun, sebab kalau sudah sampai tenggorokan langsung turun lagi.
 
Apalagi yang disebut daiwan (dawan), yang memiliki maksud : mengendalikan keluar masuknya napas yang panjang lagipula disertai dengan sareh (kesadaran penuh dan utuh), serta mengucapkan mantra yang diucapkan dalam batin, yaitu ucapan “hu” disertai dengan masuknya napas, yaitu penarikan napas dari pusar naik sampai ubun-ubun. Kemudian “Ya” disertai dengan keluarnya nafas, yaitu turunnya nafas dari ubun-ubun sampai pada pusar; naik turunnnya nafas tadi melebihi dada dan cethak (pita suara). Adapun hal itu disebut sastra – cetha. Karena ketika mengucapkan dua mantra sastra: “hu-ya”, keluarnya suara hanya dibatin saja, juga kelihatan dari kekuatan cethak (tenggorokan). (Ucapan dan bunyi mantra atau dua penyebutan ; “hu-ya” pada wirid Naksyabandiyah berubah menjadi ucapan; “hu-Allah”, penyebutannya juga disertai dengan perjalanan nafas. Adapun wiridan Syatariyah, penyebutan tadi berbunyi; [la illaha illa Allah], tetapi tanpa pengendalian perjalanan nafas.
 
Untuk masuk keluarnya nafas seperti tersebut diatas, satu angkatan hanya mampu mengulangi tiga kali ulang, walau demikian, karena nafas kita sudah tidak sampai kuat melakukan lagi, karena sudah berat rasanya (menggeh-menggeh/ngos-ngosan). Adapun kalau sudah sareh (sadar-normal), ya bisa dilaksanakan lagi, demikian seterusnya sampai merambah semampunya, karena semakin kuat tahan lama, semakin lebih baik. Adapun setiap satu angkatan lelaku tadi disebut tripandurat, maksudnya tri = tiga, pandu = Suci, rat = Jagat = Badan = Tempat. Maksudnya adalah tiga kali nafas kita dapat menghampiri jagat besar Yang Maha Suci bertempat didalam suhunan (yang dimintai). Yaitulah yang dibahasakan dengan pawirong kawulo Gusti, maksudnya kalau nafas kita pas naik, kita berketempatan Gusti, dan ketika turun, kembali menjadi kawula. Tentang masalah ini, para pembaca hendaklah jangan salah terima! Adapun maksud disebutnya kawula-Gusti, itu bukanlah nafas kita, akan tetapi daya (kekuatan) cipta kita. Jadi olah semedi itu, pokoknya kita harus menerapkan secara konsisten, membiasakan selalu melaksanakan keluar-masuk dan naik-turunnya nafas, disertai dengan mengheningkan penglihatan, sebab pengliahatan itu terjadi dari rahsa.
 
Gambar ilustrasi dari Google dengan kata kunci SYEKH SITI JENAR.
Artikel ini penulis dapat dari Blog tetangga http://gebyarmanusialangka.blogspot.com dengan judul artikel: SYEKH SITI JENAR BAPAK ILMU HENING JAWA.
Share:

Nama Hari di Jawa Adalah Nama-nama Planet


Pernahkah berfikir tentang bagaimana sebuah nama tercipta dan menjadi kesepakatan orang banyak? Jarang sekali terpikirkan keliatanya, termasuk saya pribadi. Namun rasa ingin tahu saya akan sebuah kata dan asal usulnya membuat saya terus berfikir tentang asal-usul kata tersebut dan perjalanan sejarahnya bagaimana.
Share:

Satria Piningit Di Mata Saya



Ronggowarsito adalah spiritualis indonesia yang sangat ternama karena ramalannya banyak yang sudah terbukti. Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit (Negara Indonesia), yaitu: Satrio Kinunjoro Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumela Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :
Share:

Jahe Jamu Kuat Pria



Jahe bagi masyarakat dipercaya dapat mengatasi kondisi mulai dari mual, batuk, nyeri otot hingga kanker. Kemajuan ilmu medis juga telah meneliti tentang jahe ini. Di dalam jahe ini ternyata memiliki senyawa kimia yang bisa menimbulkan efek positif di lambung dan usus, bahkan diperkirakan bisa meredam rasa mual dengan cara memberikan efek di otak dan system saraf. 
Share:

Klambi Lurik Asli Jawa




Ngagem Lurik Karya Ki Nartosabdo

Lurik-lurik lurike weton Pedan
tur lumayan sing ngagem sajak kepranan
lurik-lurik lurike weton Trasa
nadyan prasaja sing ngagem katon gembira
Pedan Trasa lurike pancen kaloka
tuwa mudha ngagem lurik
katon endah tur ya murah
kuwi mas ndheke dhewe
mulane ja nglalekke
nengsemake nganggo weton nggone dhewe
Share:

Tari Gandrung dan Identitas Daerah


Di Banyuwangi berkembang berbagai jenis kesenian tradisional. Ada janger, kuntulan, kundaran, angklung caruk, barong, rengganis, gandrung dan masih banyak yang lain. Di antara sejumlah kesenian tradisional tersebut, gandrung menempati posisi istimewa sekaligus unik dilihat dari dinamika perkembangannya kaitan relasinya dengan negara, agama dan masyarakat.

Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang. Namun bagi para tokoh di Banyuwangi gandrung tidak sekedar kesenian profan sekedar bersenang-senang menghabiskan malam, tapi sebuah kesenian yang sarat dengan nilai historis dan kepahlawanan. 

Kesadaran sejarah atau barangkali lebih tepatnya romantisme historis ini berkembang pada awal tahun 70-an setelah beberapa budayawan mencoba memberikan tafsiran makna dari gending-gending klasik yang dibawakan gandrung seperti gending padha nonton, sekar jenang, seblang lokinto, layar kumendhung dan lain-lain. Kemudian ditambah diperolehnya beberapa dokumen tulisan lawas penulis Belanda dan beberapa tulisan berbahasa Inggris yang membantu upaya penggalian makna tersebut. Berdasar hasil tafsiran makna gending-gending klasik tersebut lahir wacana bahwa gandrung adalah sebuah kesenian yang berfungsi sebagai alat perjuangan melawan Belanda. Analisanya begini; setelah Perang Puputan Bayu pada tahun 1771-1772 rakyat Blambangan yang hampir habis dan sisanya tinggal memencar dalam kelompok-kelompok kecil di pedalaman hutan, maka untuk konsolidasi perjuangan dan membangkitkan lagi semangat juang lahirlah kesenian gandrung yang berkeliling menghubungi sisa-sisa pejuang yang terpencar tadi. 


Kesimpulan ini berdasar tulisan John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi tahun 1926. Sebenarnya tulisan Scholte ini tidak memberikan data yang cukup jelas. Keyakinan fungsi perjuangan kesenian gandrung sebenarnya lebih bertumpu pada hasil pemaknaan terhadap syair-syair klasik. Wacana gandrung sebagai alat perjuangan ini kemudian berkembang menjadi keyakinan dan kesadaran kolektif di kalangan tokoh-tokoh di Banyuwangi. Hal ini terlihat pada tulisan-tulisan yang terbit di Banyuwangi seperti buku “Gandrung Banyuwangi” yang diterbitkan oleh DKB (Dewan Kesenian Blambangan) tanpa tahun, artikel di majalah Seblang edisi II tahun 2004 yang berjudul “Gandrung Kawitane Alat Perjuwangan” dan banyak tulisan lain yang diangkat di media lokal maupun nasional.
 

Kesadaran sejarah peran gandrung berjalan seiring dengan upaya pencarian identitas daerah yang mulai giat dilakukan Pemda sejak awal tahun 70-an. Gandrung sebagai kesenian masyarakat Using yang dianggap sebagai masyarakat asli Banyuwangi menjadi pilihan yang paling gampang dari pada kesenian-kesenian lainnya. Selain alasan-alasan estetika, misalnya dari segi performance gandrung pasti lebih menarik dibanding angklung caruk yang seluruh pemainnya laki-laki, gandrung juga lebih populer dibanding kesenian-kesenian lainnya. Maka jadilah gandrung yang awalnya hanya dikenal di lingkungan masyarakat petani, perkebunan, nelayan yang erat dengan ritual, ditarik oleh negara menjadi identitas daerah yang sepenuhnya profan. 

Tahun 1975 lahirlah koreografi baru tari “Jejer Gandrung“ sebagai tari selamat datang yang digelar untuk acara-acara formal menyambut tamu negara. Sebuah tari yang mencoba merangkum seni pertunjukan gandrung yang terdiri dari babak jejer, paju dan seblang subuh yang dipentaskan semalam suntuk, diringkas hanya dalam durasi waktu 15 menit. Sebagai identitas, negara punya ukuran estetika sendiri yang ketat baik penari maupun panjak (penabuh gamelan) dan pelengkap performance lainnya. Dari sinilah kemudian gandrung sebagai kesenian memiliki dua basis pendukung, yaitu gandrung di komunitas awalnya yaitu gandrung terob dan gandrung sanggar. Gandrung terob adalah komunitas seniman kesenian gandrung dan masyarakat pendukungnya. Sedangkan gandrung sanggar adalah komunitas seniman yang menyuplai pementasan formal yang diminta negara.

Gandrung sebagai identitas bagi Banyuwangi yang multi etnik tidak selalu berada dalam satu kata. Gandrung berada dalam posisi tarik ulur dan diperdebatkan oleh kekuatan yang melingkarinya. Kekuatan tidak hanya dalam pengertian negara atau pemerintah daerah, melainkan juga wacana dominan dan nilai-nilai yang disepakati masyarakat. Dalam hal ini agamawan dengan teksnya sendiri soal ukuran-ukuran moral, budayawan dengan teksnya sendiri yaitu gandrung sebagai warisan sejarah yang luhur, negara dengan teksnya sendiri gandrung sebagai alat negara, semuanya berebut dan berpilin dengan kekuatannya masing-masing. Sedangkan komunitas gandrung terob tidak tahu menahu dan berada di luar kontestasi ini. Mereka berada dalam posisi yang dibaca.

Pergulatan ini berjalan intens walau tidak selalu secara terbuka. Kasus dibongkarnya patung gandrung di pelabuhan Ketapang atas permintaan kaum agamawan Ketapang menunjukkan hal itu. Dalam kasus ini melibatkan juga anggota DPRD yang harus turun meninjau dan menindaklanjuti pengaduan keberatan masyarakat atas adanya patung gandrung yang berada tepat di depan masjid walau sebenarnya masih dalam area pelabuhan. Namun peran dominan negara dan wacana identitas daerah mengalahkan wacana-wacana kontra. Di tengah polemik gandrung sebagai identitas Banyuwangi di sidang-sidang DPRD, pada tahun 2003 keluar SK bupati nomor 147 yang menetapkan tari jejer gandrung sebagai tari selamat datang di kabupaten Banyuwangi. Dengan demikian pemihakan terhadap gandrung yang bersifat politis menimbulkan akibat politis pula. Akibatnya ketika didirikan pusat latihan gandrung di desa Kemiren, program ini hanya berlangsung dua tahun karena pada tahun berikutnya anggarannya tidak disetujui oleh DPRD.

Di tangan negara, gandrung sebagai identitas daerah menjadi wacana dominan. Patung dan gambar gandrung menghiasai kota dan desa. Gambar gandrung menghias tempat sampah, pot bunga di trotoar, brosur pariwisata, baliho di perempatan jalan dan dinding perkantoran. Patung gandrung diletakkan di sudut-sudut taman, gapura kampung sampai pintu masuk kabupaten. Bahkan di pintu masuk dari utara di wana wisata Watu Dodol dibangun patung gandrung setinggi 12 m. Begitulah gandrung telah direngkuh negara dan karena menjadi identitas menghendaki tunggal, maka gandrung sebagai sesuatu yang dilihat, sesuatu yang dinilai semakin berada di tempat tinggi dan semakin kentara untuk diperdebatkan dan diperebutkan.


Setelah gandrung menjadi identitas daerah, menjadi taruhan image daerah, maka Pemda menerapkan standar estetika yang memenuhi unsur kepantasan laik jual dan membanggakan. Pada saat demikianlah kemudian ketika negara mengirimkan muhibah seni baik nasional maupun internasional terjadi proses marjinalisasi secara sistematis. Yang dipilih mewakili negara bukanlah komunitas gandrung terob melainkan gandrung sanggar yang lebih mampu memenuhi standar estetika yang ditetapkan negara. Disaat gandrung menjadi kebanggaan kolektif, justru komunitas aslinya termarjinalkan. Mereka tidak mempunyai kemampuan dan keberanian untuk berbicara, mereka lebih menganggapnya sebagai problem yang tak terucapkan.

Belum lagi problem relasinya dengan agama. Dengan semakin intensifnya proses purifikasi agama menempatkan gandrung berada pada posisi pesakitan. Gandrung distigma sebagai kesenian maksiyat dan tidak layak didekati. Konstruk agama dengan dengan seperangkat standar moralitas telah mereduksi estetika pertunjukan gandrung. Goyang pinggul, minuman keras, berbaurnya laki-laki dengan perempuan, kostum semuanya bertentangan dengan nilai dominan yang dikembangkan agama. Sekali lagi gandrung berada pada posisi yang lemah, sebagai pihak yang dinilai. Walau mereka sebenarnya memiliki ukuran nilai sendiri namun sekali lagi tak terucap dengan lantang. Mereka dalam posisi bertahan dan sering kali secara tak sadar menerima setigma dari luar sebagai kebenaran.

Dalam kaitan membangun tata sosial yang berkeadilan, memberikan kesempatan yang sama terhadap semua elemen masyarakat untuk berekspresi tanpa tekanan dari pihak lain, ketidakseimbangan relasi ini perlu diupayakan agar terjadi relasi yang seimbang antara komunitas gandrung terob dengan kekuatan dominan yang melingkupinya. Mereka diberdayakan agar mampu berfikir secara kritis membaca posisinya sendiri di tengah relasinya dengan kelompok lain. Membangun kemampuan mereka untuk menyadari dan berani menyuarakan kemarjinalannya, dan mampu mengevaluasi kekurangan mereka sendiri sangat penting dalam kerangka berfikir bahwa perubahan sosial akan menjadi lebih sehat dan memiliki daya perlawanan yang kuat apabila tumbuh dari komunitas itu sendiri. Bukan perubahan yang dibangun dari atau oleh pihak luar akan tetapi tumbuh dari kesadaran mereka sendiri.

Di Tulis oleh Pak Hasan Basri dari Banyuwangi. Kunjungi blognya untuk mendapatkan berita lebih banyak tentang Banyuwangi. Hasan Basri BLOG.
Share:

Sinden di Ambang Kehancuran

Hal yang cukup 'mencengangkan' sekaligus juga menggembirakan saat Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unnes, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng akan menggelar acara kompetisi bertajuk “Sinden Idol 2012”. Pendaftaran dan penjaringannya dibuka pada 15 Oktober-15 November 2012 mendatang. Sebuah ajang pencarian sinden-sinden berbakat di Jawa Tengah. Tak main-main hadiahnya sangat menggiurkan. Untuk pemenang pertama mendapatkan 20 juta, kedua 15 juta dan ketiga 10 juta.

Sinden sendiri berarti vokal tunggal yang (kebanyakan) dibawakan oleh wanita. Namun, agak berbeda pengertian sinden dengan vokalis dalam musik pada umumnya. Sinden bukanlah vokalis. Vokalis adalah orang yang bernyanyi dan diiringi dengan instrumen musik. Vokalis menjadi pusat perhatian karena tema dan pesan utama tertampung dalam balutan lirik-liriknya. Dengan demikian, vokalis menjadi acuan dalam sebuah pertunjukan musik. Sementara pengertian sinden tidak demikian. Kedudukan sinden setara dengan instrumen gamelan lain. Tidak mencoba diiringi maupun mengiringi. Singkatnya, sinden juga dianggap sebagai satu kesatuan instrumen gamelan. Agar terwujudnya capaian rasa gending yang ideal, maka semua instrumen harus saling bersinergi antara satu dengan yang lain, tak terkecuali sinden.

Warna Lain

Susan Pratt Walton dalam disertasinya yang berjudul “Heavenly Nymphs and Earthy Delights: Javanese Female Singers, Their Music and Their Lives” (1996) dengan lugas menyatakan, walaupun suara sinden lebih terdengar nyaring daripada instrumen gamelan lainnya tapi bukan berarti ia menjadi panutan dan dasar acuan. Karena dalam hampir keutuhan sajian, sinden tidak berperan sebagai pemimpin bagi keseluruhan ansambel layaknya vokalis dalam orkestra musik Barat. Namun, sinden menjadi begitu istimewa karena boleh dikata ialah satu-satunya yang memberi ‘warna lain’ dalam pertunjukan karawitan. Bukan karena apa yang disajikan, namun oleh siapa yang melagukannya. Membicarakan sinden berarti membicarakan gender –jenis kelamin-. Ya! Sinden adalah wanita yang kadang memberi guratan nuansa lain dalam ingar-bingar kuasa laki-laki atas gamelan.

Bukan satu hal yang aneh, fenomena tergusurnya wanita dalam jagat “musik tradisi” kita sudah lama diberlangsungkan. Kuasa laki-laki masih sangat dominan. Musik-musik tradisi Nusantara dan khususnya Jawa menempatkan supremasinya sebagai satu dari sekian banyak olah kebudayaan yang memiliki wajah dan jiwa kekerasan kalau bukannya kelelakian. Wanita hanya menjadi simbol yang mengguratkan aura feminisitas sehingga kehadirannya kadang dianggap kurang layak jika menghuni ruang-ruang dengan imaji yang maskulin. Wanita mengalami kebangkrutan eksistensi dalam jagat musik tradisi di Jawa. Adanya sinden seolah memberi oasis yang menyegarkan bagi denyut hidup wanita dalam musik tradisi terutama karawitan Jawa.

Apa yang unik dari (pe)sinden? Pertama, lihatlah posisi duduknya, mereka bersimpuh dalam balutan kain jarik dengan posisi punggung yang tegak. Tak cukup dengan hanya hitungan menit, namun jam. Bahkan semalam suntuk mereka harus duduk dengan posisi demikian untuk menemani sang dalang mempergelarkan pertunjukan wayang kulit. Adakalanya terjadi interaksi yang harmonis antara sinden dan dalang. Sinden tak dibekali ruang untuk berolah tubuh layaknya penyanyi-penyanyi lain di abad ini. Kuasa sinden tak dilihat dalam domain fisiknya, namun olah dan kemerduan vokalnya. Jangan heran kemudian jika sinden-sinden idola dari masa ke masa bertubuh bongsor namun memiliki dentuman suara yang mampu memikat hati kaum adam.

Era Narto Sabdo -dalang kondang-, banyak mengubah citra sinden di mata masyarakat. Sinden, tidak lagi harus duduk di belakang dalang. Sinden kemudian berada di samping kanan sang dalang, namun bertolak belakang arah hadap. Sinden secara langsung menjadi etalase bagi mata penonton. Dengan arah hadap yang demikian, mengharuskan para pesinden untuk tampil cantik dan menawan. Era suara kemudian harus diimbangi dengan citra visual. Walhasil, banyak sinden yang kemudian merawat tubuhnya untuk tampil ‘seseksi’ mungkin dengan dandanan yang menor.

Kedua, seorang sinden harus memiliki penguasaan bekal musikal yang mumpuni. Pesinden berada dalam pusaran tafsir dan imajinasi musikal tinggi. Karenanya, tak semua vokalis wanita mampu menjadi pesinden. Ia harus sadar betul cara mengornamentasi sebuah gending dengan tafsir teks (cakepan), irama, rasa, tempo dan tentu saja garap. Sinden yang handal berarti telah qatam akan semua itu. Seorang sinden diuji bukan dari kualitas suara semata, namun kesatuan yang terjalin dengan gending yang dibawakan. Oleh karena itu, pesinden berbeda dengan penembang. Disebut sinden karena kehadirannya yang menyertai sebuah gending walaupun teks vokal yang disajikan adakalanya berupa tembang. Sementara penembang bisa melagukan vokal secara mandiri tanpa adanya (iringan) gending gamelan. Singkatnya, pesinden sudah pasti penembang, namun penembang bukan berarti seorang pesinden. Hal ini wajib diketahui agar keduanya tidak saling silang pengertian.

Kompetisi
Sinden Idol 2012 seolah berusaha memberikan sejumlah tawaran alternatif akan pemikiran dan generasi penerus sinden di Jawa pada umumnya. Diharapkan, kompetisi ini mampu memunculkan dan sekaligus mencetak generasi baru sinden yang bermutu. Mengembalikan kodrat sinden dalam takaran penilaian auditif (suara) bukan lagi glamournya visual yang selama ini banyak menghiasi wajah pertunjukan wayang kulit muthakir. Namun sayang, ada beberapa catatan yang kurang diperhatikan dalam kompetisi itu.

Dari press release di media serta informasi yang didapat dari website Unnes, tak ada batasan usia bagi peserta. Hal ini mengingatkan jenis kompetisi serupa yang beberapa waktu lalu (September) diberlangsungkan di ISI Yogyakarta dalam mencari sosok pemain -instrumen- gender berbakat. Tak ada batasan usia. Peserta terdiri dari para empu gender di Jawa Tengah dan Yogya. Bahkan tim penilai konon adalah anak didiknya, kalah senior. Akibatnya, hampir semua pemenang adalah generasi penggender yang sudah dikenal publik. Tak satupun peserta muda yang mendapatkan nomor di ajang itu.

Bisa jadi pula, banyak pesinden yang sudah mahsyur dan ternama akan mengikuti lomba Sinden Idol 2012. Jika demikian ambisi dalam mencari bibit-bibit sinden baru akan mengalami kebuntuan. Karena tak diragukan lagi, para senior sinden tersebut telah teruji di mata masyarakat, sehingga menjadi tabu jika dipersaingan itu ia kalah. Di sisi lain, batasan wilayah sindenan juga tidak dijelaskan secara spesifik, hanya berkisar pada gaya Jawa Tengahan. Padahal kita tahu, sindenan banyak variasi dan gayanya. Ada versi Surakarta, Semarangan, Sragenan, bahkan Banyumas dan Tegal. Suraji dalam tesisnya yang berjudul “Sindenan Gaya Surakarta” (2005) mencirikan dengan spesifik gaya sindenan Surakarta dibanding dengan lainnya. Bahkan di wilayah Surakarta sendiri banyak ragam dan versi yang tidak bisa dikomparasi baik buruk antar satu dengan lainnya.

Pertanyaannya kemudian bagaimana jika peserta Sinden Idol 2012 membawakan sinden dengan versi yang beraneka ragam tersebut? Satu sinden memiliki citra penilaian yang berbeda. Bisa jadi, apa yang dianggap bagus bagi gaya A adalah sepele di gaya B, atau sebaliknya. Sampai di sini, batasan dan kriteria penilaian harus lebih dapat diperjelas. Hal itu menjadi “pekerjaan rumah” bagi panitia. Walaupun demikian, Sinden Idol 2012 patut untuk diapresiasi sebagai sebuah langkah kongkrit institusi, terkait pembelaan terhadap kesenian tradisi. Karena bukan rahasia lagi, denyut hidup kesenian tradisi dewasa ini semakin tak mampu menunjukkan detaknya. Tertimbun dalam tumpukan jerami seni-seni populis yang glamour dan gemerlap.

Ditulis oleh Aris Setiawan (Dosen ISI Surakarta), pernah diterbitkan di harian Suara Merdeka, 3 November 2012.
Gambar dari browsing di Mbah Google dengan kata kunci "Sinden".
Share:

Sanggit dan Kinerjanya

Sanggit sudah tidak asing lagi bagi telinga penggemar wayang, yang bisa diartikan sebagai ciri khas seorang dalang dalam membawakan cerita tertentu. Dalang A dan dalang B dalam sajiannya akan berbeda meskipun mereka menyajikan satu lakon. Kadang juga dalang A dalam membawakan lakon yang sama tetapi dipentaskan beberapa kali ditempat yang berbeda juga akan berbeda dalam sajiannya. Karena memang pertunjukan wayang itu sangat kontekstual. Tulisan ini hanya akan memberikan sedikit gambaran tentang apa itu sanggit dan bagaimana menyusun sanggit yang baik. Tentunya ini merupakan salah satu alternatif atau sebagai penawaran sistem kerja bagi seorang dalang ataupun calon dalang.

Nah sebagai ilustrasi saya sisipkan tembang macapat Megatruh yang terdapat dalam Serat Sabdajati karangan Ranggawarsita. Untuk mengetahui lebih detail tentang serat ini anda bisa berkunjung (klick aja di sini).


Haywa pegat ngudia ronging budyayu,
margane suka basuki,
dimen luwa kang kinayun,
kalis ing panggawe sisip,
ingkang taberi prihatos.

Ulatana kang nganti bisa kapangguh,
galedhagen kang sayekti,
talitinen aywa kleru,
larasen sajroning urip,
den tumanggap dimen manggon.
Panggonane aneng pangesthi rahayu,
angayomi ing tyas wening,
eninging ati kang suwung,
nanging sejatine isi,
isine cipta kang yektos.
Lakonana kalawan sabaring kalbu,
yen den obah neniwasi,
kasusupan setan gundhul,
ambebedhung nggawa kandhi,
isine rupiyah keton.

Perkembangan jaman menuntut kreatifitas seorang dalang sebagai pelaku seni dalam pertunjukkan wayang. Kreatifitas adalah merupakan sistem atau cara kerja dalang, maka kreatifitas dapat dibagi menjadi dua bagian, dalam hal ini Jlitheng Suparman berpendapat bahwa secara sistematik, wujud kreativitas dalang terdiri dari dua dimensi: konsep dan implementasi konsep. Sanggit adalah konsep yang disusun di bawah panggung berupa teks (balungan lakon dan atau naskah). Implementasi konsep adalah tafsir teks dalam bentuk sajian yang disebut “cak pakeliran” Bangunan teks (sanggit atau konsep cerita/lakon) atau disebut struktur cerita terdiri dari unsur-unsur substansial berupa tema, amanat, alur/plot, setting, dan penokohan. Implementasi teks atau sanggit disebut “cak pakeliran” yakni penyajian atau tafsir sanggit melalui perangkat ekspresi berupa: catur, sabet dan gendhing. Pengolahan dari ketiga perangkat ekspresi tersebut menghasilkan sebuah nuansa ekspresi berupa: sem, nges, greget, dan regu.

Lebih jelasnya bahwa sanggit merupakan salah satu kinerja dalang dalam menyusun sebuah naskah (naskah wayang). Naskah ini bisa berbentuk balungan lakon atau naskah utuh. Balungan lakon hanya terdiri dari struktur adegan atau plot-plotnya, sedangkan naskah utuh adalah sudah menjelaskan sajiannya secara menyeluruh. Artinya sanggit merupakan langkah awal dalang sebelum melakukan pementasan. Menurut pemikiran saya dengan adanya sanggit, maka akan tercipta (timbul) ilustrasi untuk musik dan sabet. Artinya sanggit merupakan elemen dari totalitas pertunjukan wayang tersebut. Dengan sanggit kemudian musik bisa berbicara dengan mediumnya yang sifatnya memberikan ilustrasi baik dengan mengkaji penokohan (pengkharakteran) atau suasana adegan yang diharapkan. Dalang bisa menciptakan stayle sabet yang sesuai dengan sanggit yang dibuat. Mungkin juga bisa disebut sanggit merupakan kunci dari sistematis pertunjukan wayang. Oleh karena sanggit merupakan elemen dari keseluruhan sajian, maka dalam pembuatan sanggit sangat perlu perenungan-perenungan secara matang, dengan memperhatikan alur cerita, dramatikalnya dan setting atau situasi.

Adapun perangkat kerja dalam penggarapan sebuah sanggit, atau langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Daya imajinasi adalah lebih dikarenakan cerita wayang itu bersifat fiktif atau khayalan. Bukan sekedar mensitir kisah nyata, tetapi lebih dalam keliaran berfikir khayalan, sehingga tidak nampak atau semu, perbandingannya adalah wartawan yang tukang cari kabar, dia hanya menggaris bawahi kabar tersebut. Wah bagus ini kalau soal berkhayal, aku paling hobi, berkhayal punya cewek, ha ha ha.
  2. Kepekaan intuisi adalah kepekaan rasa dan nalar kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita kekinian sehingga realitas itu menjadi materi tematik maupan sebagai muatan kisah nantinya. Kepekaan intuisi ini bisa dicapai kalau jaman nenek moyang dahulu dengan cara laku brata. Apakah cara-cara seperti itu masih relevan dengan situasi sekarang? Itu tergantung kedewasaan masing-masing individu dalang. Menurut saya pribadi bahwa dengan cara banyak membaca, menggunakan berbagai media untuk mencari informasi itu adalah salah satu langkah yang bagus di era komunikasi seperti sekarang ini. Toh semua sudah dibahas, semua sudah ditulis, kita tinggal belajar dan memahami saja. Budayakan browsing di google atau yahoo dan cari reverensi di wikipedia dan lain sebagainya.
  3. Intelektualitas adalah khasanah ilmu pengetahuan, kemampuan analisis persoalan dan kamampuan meramu antara pembayangan, realitas kekinian dan materi ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan khasanah cerita wayang yang ada. Intelektualitas adalah khasanah ilmu pengetahuan, kemampuan analisis persoalan dan kamampuan meramu antara pembayangan, realitas kekinian dan materi ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan khasanah cerita wayang yang ada. Jika tiga instrumen tersebut berjalan maka akan terumuskan sebuah sanggit yang secara struktural berkualitas/menarik dan kontekstual.
Toh jaman dulu nenek moyang kita sudah terkenal dengan ndregilnya atau pinter ngothak-athik (tentunya dengan berbagai pertimbangan), sehingga Mahabarata dan Ramayana yang ada sekarang berbeda dengan sumber aslinya secara alur cerita. Karena terdapat penambahan-penambahan di sana sini yang tentunya penambahan tersebut sesuai dengan situasi jamannya. Istiliahnya kendregilah simbah-simbah karena memang mereka peka terhadap situasi jamannya, tidak hanya menggunakan sebuah dogma begitu saja, tetapi lebih dititik beratkan pada pengkawinan antara dogma yang datang dengan tradisi lokal, sehingga tercipta sebuah bentuk baru.

Dari pendapat tersebut jelas bahwa cara kerja dalang meliputi pra pertunjukan dan pertunjukan itu sendiri. Pembentukan konsep pertunjukan yang berhubungan dengan sanggit sangat membutuhkan kepekaan bagi seorang dalang dalam menanggapi fenomena yang sedang terjadi di masyarakat. Alhasil seorang dalang harus senantiasa belajar, memahami dan menyimpulkannya. Sehingga terbentuk sebuah konsep baru yang memadai dan mampu memberikan pencerahan terhadap para penggemar wayang. Dengan demikian pasti wayang selalu di gemari oleh masyarakat pendukungnya dan tetap eksis. Mangga teman-teman calon dalang berlatih dan belajar bersama yuk.

Hasil Diskusi Bersama, di rangkum oleh Rencansih
Share:

Yuk Gabung

Total Pengunjung

Penunjung